Selasa, 02 Juni 2015

Assalamualaikum Beijing (Review)



Judul               : Assalamualaikum Beijing
Penulis             : Asma Nadia
Penerbit           : AsmaNadia Publishing House
Tebal               : 360 hlm
ISBD               : 978-602-9055-25-2
Versi                : Cerpen & Novel
Cinta, pengkhianatan, kesetiaan, pengorbanan dan keteguhan hati. Inilah makna yang terangkum dalam novel ini. Bahwa dalam hidup ujian akan selalu datang, dan kita harus mengadapinya dengan ikhtiar dan ikhas. "Kita tidak bisa menghindari takdir yang Allah berikan tetapi bisa memilih cara bagaimana menghadapinya". Dan ketika kita mempunyai keikhlasan yang kuat dalam menghadapi ujian-Nya, niscaya dengan Kun Fayakun-Nya semua cobaan akan hilang dengan sendirinya. Allah tak menguji hamba hamba-Nya di luar kesanggupan, dan doa adalah senjata yang memungkinkan kemustahilan
Novel ini menceritakan tokoh utama bernama Asma, seorang gadis manis dengan mata indah yang cerdas, dan semangat hidup yang besar dalam menghadapi segala ujian Allah. Seperti saat Ia berhasil menundukkan undakan demi undakan  Great Wall  yang panjang dan dipenuhi dengan banyak gembok cinta yang terpasang di dindingnya, seperti itulah Ia mencoba menjalani dan menundukan setiap cobaan hidup yang datang.

“ Harta dan kebangsawana n tak membuat laki-laki menjadi pangeran. Cinta Sejati seorang putrilah yang mengubahnya ”

AsmaRa, nama panggilan sayang yang diberikan oleh Dewa, pria yang sudah 4 tahun menjalin kisah cinta dengannya. Kebersamaan, Kepercayaan dan Impian menjalani hidup bersama yang hampir diwujudkan dalam pernikahanpun seketika gagal, setelah Dewa melakukan kehilafan dengan Anita, teman sekantornya. Kehilafan itu membawa Dewa pada kehidupan rumah tangga yang tak bahagia bersama Anita, gadis cantik bertubuh tinggi, putih dan berobsesi besar untuk memiliki Dewa. Tetapi apapun kelebihan yang dimiliki Anita tak mampu membuat Dewa hidup bahagia, karena sesungguhnya cinta Dewa hanya untuk Ra.

“ Jika tak kau temukan cintamu, biarkan cinta yang menemukanmu ”

Kepergian sang Ayah yang lebih memilih perempuan lain dan kegagalan pernikahanya dengan Dewa, membuat Asma semakin mempertanyakan tentang keberadaan cinta sejati. Ia perlahan menutup hati. Ia tak ingin membuang waktu mengingat orang-orang yang telah memutuskan pergi dari hidupnya.

Perjalanan Asma ke Cina awalnya hanya sebatas perjalanan dinas menggatikan teman kerjanya, tetapi dari sinilah awal bertemunya cinta sejatinya. Zhongwen, pemuda berahang kukuh dan bermata cerdas yang tanpa sengaja ia temuai di Cina. Zhongwen dengan segudang pengetahuanya tentang legenda Cina telah memberikan banyak bantuan dan pelajaran baru selama Asma di Cina. Pertemenan mereka berlanjut hingga Asma kembali ke Indonesia, mereka berdiskusi tentang banyak hal melalui email, sms ataupun kartu pos yang sering Zhongwen kirim dari berbagai kota di Cina. Dari Asma juga Zhongwen banyak mendapat pencerahan tentang Islam, dan hidayah yang akhirnya menuntunnya  menjadi muallaf, meski sebagai konsekuensinya, Zhongwen terusir dari keluarga. Pertemanan yang semakin lama menumbuhkan cinta di antara keduanya tetapi entahlah apakah itu benar cinta?? Asma tidak ingin berharap banyak tentang cinta pada pria yang jauh di negeri Cina itu.

“ Tak akan kau temukan aku terkapar sebab kekalahan serupa api bagiku yang membakar belukar di tiap jalan “

Diuji dengan sakit Asma justru semakin kuat, ketika Ia divonis penyakit APS (Antiphospholipid Syndrome) penyakit pengentalan darah yang dapat menyebabkan berbagai kemungkinan termasuk stroek, kebutaan dan sulitnya mendapatkan keturunan. Tetapi dalam sakitnya Asma termotivasi untuk memberikan yang terbaik dan membahagiakan orang yang sangat dicintainya, satu-satunya, sang Mama. Berusaha menutup rapat sakit dan derita yang menderanya dari dunia, termasuk dari Zhongwen. Harapan dan sinyal-sinyal cinta yang dikirim Zhongwen selalu ditepisnya dari pikiran. Iya hanya ingin fokus pada cita-cita membahagiakan Mamanya. Melewati hari-hari berat bersama sang Mama, sahabatnya Sekar dan suaminya  Mas Ridwan.

“ Doa selalu menenangkan dan memberikan harapan “
Bismillahisy syafi, bismillahi kafi, bismillahil mu’afi, bismillahil ladzi la yadurru ma’asmihi syai’un fil ardi wa la fis sama’i wa huwas sami’ul alim “
“ Dengan nama Allah Tuhan yang menyembuhkan. Dengan nama Allah Tuhan yang mencukupkan. Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatupun yang berbahaya baik di bumi maupun di langit “
“ Inni massaniyad durru wa anta arhamur rahimiin “
“ Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang”

“ Aku tak ragu mengatakan, bersama denganmu walaupun sebatas embusan angin kunamai ia anugrah “

Keyakinannya memilih Islam dan cintanya pada Asma, membawa Zhongwen sampai ke Indonesia. Meskipun kenyataanya Asma yang Ia lihat sekarang sedang sakit, tetapi apapun resikonya ia tetap yakin dengan cintanya pada Asma. Dengan segenap cinta karena Allah kesabaran dan kesungguhan Zhongwen merawat Asma menyentuh dan menumbuhkan kembali perasaan sayang dan cinta yang awalnya hilang. Zhongwen adalah anugrah, dan mungkin cinta sejati Asma.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar